Investasi Jurnal Swasta

Investasi Jurnal Swasta

Investasi Jurnal Swasta

Medan - Pemimpin Umum Harian Analisa, Supandi Kusuma (kiri) memberikan sejumlah saran dan masukan kepada calon walikota Tebing Tinggi, Eddy Syofian saat kunjungan silaturahmi ke Kantor Harian Analisa Medan.

Saat ini pembangunan ekonomi, networking, rasa nasionalisme dan cinta terhadap leluhur serta menghargai kebudayaan yang paling kuat adalah China. Nilai-nilai positif bisa diambil dan disinkronkan lewat kerjasama dengan provinsi atau daerah yang ada di China dengan kabupaten/kota di Sumut, maka ke depan Sumut akan lebih maju. Salah satunya kota Tebing Tinggi, untuk itu peran swasta sangat penting dikembangkan untuk membangun investasi di daerah.

Hal ini disampaikan calon walikota Tebing Tinggi, Drs Eddy Syofian MAP ketika melakukan kunjungan silaturahmi ke Pemimpin Umum Harian Analisa Supandi Kusuma di ruang kerjanya, Selasa (21/6).

Kunjungan calon walikota Tebing Tinggi diterima Supandi Kusuma yang juga Ketua PB Wushu Indonesia, didampingi Pemimpin Perusahaan Sujito Sukirman, Redaktur Kota H Hermansjah SE dan wartawan Analisa di Tebing Tinggi Chaidir Chandra.

Pertemuan yang hampir satu jam itu berlangsung penuh kekeluargaan, Eddy Syofian yang 20 tahun bergelut di bidang humas mengaku sangat hormat dan kagum atas kepemimpinan Supandi Kusuma yang berhasil membawa olahraga wushu ke tingkat internasional dan memimpin sebuah surat kabar yang mampu memberi pencerahan.

Selain itu, Eddy begitu akrab disapa menyampaikan keinginannya menjadi kota Tebing Tinggi sebagai kota transit, pusat jasa, kesehatan, perdagangan dan pendidikan. Kota transit, katanya di Tebing Tinggi harus memiliki suatu daerah yang menjadi pusat beristirahat bagi para wisatawan ketika akan melakukan perjalanan ke Prapat. “Jalan tol Tanjung Morawa-Tebing Tinggi rencananya akhir Juni 2011 ditenderkan. Jika ini selesai Tanjung Morawa-Tebing Tinggi bisa ditempuh dengan jarak 45 menit. Akhirnya, semua wisatawan bisa berhenti di Kota Tebing Tinggi,” katanya.

Dia mengungkapkan pembangunan ini akan cepat selesai apabila diserahkan ke investor. “Tidak salahnya jika investor itu datang dari China karena memiliki kesamaan budaya dan khususnya etnis Tionghoa yang ada di Tebing Tinggi juga bisa membuka peluang investasi,” ujarnya.

Keinginan lain yakni menjadikan kota Tebing Tinggi sebagai pusat kuliner dengan menyediakan satu lahan yang dipusatkan untuk berjualan kuliner khas Tebing Tinggi antara lain Lemang Tebing, dan Roti Kacang.

Soal Inalum yang akan dinasionalisasi, Eddy memiliki rencana strategis ke depan, yakni bagaimana seharusnya Inalum di Kuala Tanjung membangun industri hilir karena akan menyedot tenaga kerja yang banyak. “Sayangnya, itu tidak dilakukan pemerintah sejak dulu, sejumlah kabupaten/kota yang dilintasi sungai Asahan hanya menerima

bantuan dana saja. Akhirnya pengangguran meningkat,”ungkpanya.

Makanya, jika sudah dinasionalisasikan dia mengusulkan dibangun industri hilir karena 44 persen produksi alumunium Kuala Tanjung bisa dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan Sumut bukan malah dikirim ke Jawa.

Tebing Tinggi, lanjutnya juga butuh dukungan PTPN karena Sungai Mangke sebentar lagi selesai dan membutuhkan 8.000 tenaga kerja dimana ada 1,5 juta ton hasil diproduksi pabrik yang memudahkan pengangkutannya. Tahun ini dibangun jalur kereta api dari Perlanakan ke Kuala Tanjung sehingga produksi CPO dan industri yang berbasis sawit tidak dikirim ke Belawan tapi ke Kuala Tanjung.

Makanya, Sumut harus memperkuat jalur kereta api sehingga jalan-jalan tidak rusak dengan adanya truk-truk bermuatan besar.  Selain itu, untuk mewujudkan kota yang maju harus ada lima yang harus disiapkan pemerintah, listrik, air bersih, telekomunikasi, infrastruktur seperti jalan, jembatan dan pariwisata.

Eddy yang 9 bulan, 12 hari menjadi Pj Walikota Tebing mengungkapkan keinginan untuk menjadi pemimpin yang pluraris yakni mampu mengayomi semua etnik yang ada di Kota Tebing Tinggi.

Dalam perbincangan tersebut, Eddy juga menyampaikan berbagai program yang digelar yang bersentuhan dengan etnis Tionghoa. Menurutnya, ada sembilan kebijakan yang dilakukan, bukan berpihak tapi menempatkan porsi secara proporsional. Artinya, Kota Tebing Tinggi yang sudah berumur 140 tahun dengan bukti bangunan pertama di Jalan Patriot, Jalan Bedagai dan ada Vihara Mahadana yang usianya satu abad lebih membuktikan etnis Tionghoa sudah 100 tahun bermukim di Tebing Tinggi.

Selama menjadi Pj Walikota dia sempat terharu karena tokoh-tokoh etnis Tionghoa datang memberi dukungan khususnya dalam perayaan Imlek yang dilakukan Muspida bersama masyarakat Tionghoa dengan melakukan pawai belum lama ini.

Sebagai anak asli Tebing Tinggi, yang dilahir dan dibesarkan di kota lemang ini, Eddy meminta doa restu dan dukungan kepada tokoh etnis Tionghoa Sumut Supandi Kusuma agar kiranya masyarakat etnis tTionghoa bisa bersatu padu dan kompak demi kemajuan kota Tebing Tinggi sehingga ada perubahan.

Beri Dukungan

Pemimpin Umum Harian Analisa, Supandi Kusuma mengaku bangga bisa bertemu kembali dengan Eddy Syofian yang merupakan kawan lama. Dia ingin melihat kota-kota di Indonesia maju khususnya kota Tebing Tinggi. “Apabila ada kawan bisa jadi walikota atau gubernur saya senang sekali.Kalau bapak sudah siap memimpin Tebing Tinggi, bapak pegang kota Medan karena kota Medan memerlukan satu orang yang bagus,”sebutnya disambut gelak tawa.

Dia menyarankan, jika suatu kota ingin maju maka pariwisatanya harus dikembangkan. Selain itu, yang terpenting PLN tidak mengalami pemadaman karena kepadaman akan menyebabkan masyarakat panik dan pening.

Ketua PB Wushu Indonesia ini juga mengusulkan agar investasi ini ditawarkan ke China karena dipastikan akan bisa maju.

Sumber : Analisa